Friday, February 22, 2008

Upacara Adat Mbah Bregas


teks oleh : Wisnu Broto
Mendung menggantung seolah siap menumpahkan airnya. Namun masyarakat tak gentar, tetap antusias menyambut kirab gunungan di pinggir jalan desa. Sementara bunyi genderang mulai mendekat, butir-butir halus air hujan mulai turun.
Masyarakat Dusun Ngino, Margoagung, Seyegan, Sleman sekitar 25 km dari pusat kota Yogyakarta kembali menggelar Upacara Adat Merti Bhumi ‘Mbah Bregas’ pada hari Jumat Kliwon pertengahan Mei lalu. Upacara adat ini digelar setiap tahun sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME atas karunia yang telah diberikan berupa rezeki yang melimpah antara lain panen yang bagus, kesejahteraan, keselamatan, ketentraman, dan kesehatan.
Upacara adat ini juga sebagai upaya mengenang tokoh legendaris Mbah Bregas yang dianggap sebagai leluhur desa. Konon pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit banyak bangsawan istana yang memilih melarikan diri daripada tunduk terhadap kekuasaan Kerajaan Demak. Salah satu dari bangsawan yang melarikan diri tersebut tiba di wilayah yang sekarang bernama Dusun Ngino. Untuk menghilangkan jejak, bangsawan tersebut meninggalkan kebangsawanannya dengan menjadi seorang pertapa yang bertapa di bawah pohon beringin.
Keberadaan pertapa tersebut lambat laun diketahui oleh masyarakat setempat. Ketika timbul wabah penyakit (pageblug), pertapa tersebut menjadi juru selamat dengan memberi pengobatan kepada masyarakat yang terserang penyakit. Dari sinilah julukan Mbah Bregas mulai melekat pada si pertapa. ‘Bregas’ berarti Bagas-waras atau sehat.
Keberadaan Mbah Bregas semakin dikenal. Pada suatu saat datanglah Sunan Kalijaga untuk berdialog dengan Mbah Bregas. Perbincangan dengan ditemani jamuan mengunyah daun sirih tersebut berlangsung lama dari malam hingga tanpa sadar pagi telah menjelang. Ketika sadar bahwa pagi telah tiba, Sunan Kalijaga kemudian minta pamit untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan, Mbah Bregas tetap tinggal sambil merenungkan pembicaraan dengan Sunan Kalijaga tersebut.
Mbah Bregas kemudian meninggalkan Dusun Ngino setelah sebelumnya meninggalkan beberapa pesan kepada warga setempat. Tidak ada orang yang tahu kemana perginya Mbah Bregas. Beberapa orang percaya perginya Mbah Bregas karena ilmu moksa (menghilang bersama raga) yang dimilikinya.
Kini masyarakat Ngino mengenang jasa-jasa Mbah Bregas melalui ritual tahunan Upacara Adat Mbah Bregas yang dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon seusai panen. Ritual ini diawali dengan pengambilan air suci di Sendang Plawangan sehari sebelumnya. Jumat siangnya sebelum acara Kirab Gunungan, diadakan pagelaran wayang kulit dengan lakon ‘Dewi Sri Kondhur’ (Dewi Sri Pulang). Kemudian dilanjutkan acara kirab Gunungan dari Balai desa menuju lapangan Ngino. Perebutan gunungan yang tersusun atas hasil bumi oleh masyarakat dan pembagian air merupakan puncak acara ritual ini dan menjadi atraksi yang menarik. Masyarakat menganggap hasil rebutan gunungan dan air suci membawa berkah tertentu. Malamnya, kembali digelar wayang kulit dengan lakon ‘Kresna Gugah’.
Kendati digelar setiap tahun, namun Upacara Adat Mbah Bregas kurang setenar upacara Grebeg Mulud dan Grebeg Syawal di Yogyakarta ataupun di Solo. Padahal upacara yang berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat ini, berpotensi tinggi dalam menjaring wisatawan nusantara maupun mancanegara. Daya tarik utamanya, adanya pagelaran wayang kulit dan kirab gunungan yang diakhiri dengan perebutan gunungan dan pembagian air suci. Penyebabnya bisa jadi karena kurangnya inormasi mengenai acara ini.

Tips Perjalanan
Upacara Adat Mbah Bregas dilaksanakan setahun sekali seusai panen. Untuk mencapai Dusun Ngino sebaiknya menggunakan kendaraan sewaan karena angkutan umum pedesaan yang mengantarkan sampai ke arah Dusun Ngino sangat jarang dan berhenti beroperasi menjelang magrib. Tetapi jika penggunaan angkutan umum merupakan pilihan, Anda bisa menggunakan Angkutan kota Jalur 5 jurusan Terminal Yogyakarta – Terminal Jombor dengan tarif Rp 2000,- per orang. Dari Terminal Jombor disambung dengan angkutan pedesaan Jalur 1C Jurusan Terminal Jombor – Tempel dengan tarif Rp 5000,- per orang, turun di Pasar Sri Katon Agung, Margokaton, Seyegan, Sleman. Dari Pasar Margokaton perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 2 km.

2 comments: